Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

PENGANTAR PULANG

Ketidakpastian menelangkup gugup, menjalani hidup... Seumpama di puncak malam redup tak sanggup Temaram cahaya Simbol  Adanya hidup Dan yang hidup Sampai kemaluan gelap diganti mentari Sejak itu merangkak Dipastikan semua bergerak Mencari gejolak menghasilkan bekal Menjarak antara butuh atau harus Menjarah tatanan merusak! Hingga terik menyengat, tak tampak surut semangat merayap sepanjang jalan kota  Ini adalah keharusan  Bukan sekedar kebutuhan Pertanggungjawaban ketidakpastian Senja bergurat seindah tarian Siluet terpampang pamer Selaksa warna tak beraturan memosisikan diri Menjinjing bawaan atas apa yang diperjuangkan Sekedar oleh-oleh Covid-19 Bukan buah tangan culas Saatnya melakukan kerja Tak melulu rusuh "Cipta Kerja" Berani pulang Yang membesarkan  Bergizi cacian Jambi, 141020

TIADA NYALA

Tak ada pertemuan Tak ada perayaan Tak ada bingkisan Tak juga ucapan Saling menjerit dalam kehampaan Menautkan rindu di kejauhan Bukan tak inginkan sulur api cinta membara Ketakutan telah menghadang rencana

TAK PANTAS BERBATAS

Jika jiwa kita sama...aku tak pernah setega itu Aku bahkan selalu menyembunyikan sayatan luka yang orang lain lakukan padaku Aku pun tak pernah bisa tega Berarti kita tak benar-benar sama Saat luka-luka ini kambuh Menyergapku Aku menjadi marah pada Tuhan Adakah kata selain lelah yang pantas terucap? Rongga dada begitu pengap Apalagi yang harus dikeluarkan dalam isak? Aku pun mengantuk, badan letih Di ujung ingus dan sisa air mata Harus saja aku katakan rindu tak tertahankan Pada ketidakmampuan Aku pada kesendirian Kupeluk perih dan lukaku  Di sisa November yang sangat basah Mencengkeram seolah tak terpisah Antara nyata atau sekadar khayal

BULAN DI RANTING KELOR

Bulan itu kamu Kamu itu bulan Tak terang di malam gelap Namun cukup dengan redup yang hangat Bulan itu kamu Kamu itu bulan Cukup indah di kejauhan Ada ketenangan saat memandang Adanya tak setiap malam Cukup menunggu penasaran Agar awan tak menghitam Menutup Kilauan Untuk sampai padaku Tersamar oleh ranting kelor Dan daun perdunya #Sunyi, menatap siaranmu dari sini

RENJANA BERSELIMUT KUOTA

Kaubuatkan istilah indah dalam baris media sosial “Corona” Yang tak lain untuk menertibkan jarak sosial Nanar sudah menggelayuti mata rimpuh mengental Pada harap yang terabai vatal Berisik adanya saat semua menyesaki rumah dalam pandemi Kerja dari rumah! Belajar dari rumah! Silaturahim dari rumah! Mencaci-maki pun  Kubuka saja pintu belakang, kubawa saja gagang cangkul Sudahlah tumpul Tak kuambil pusing saat ego dan semangat terkumpul Aku ayunkan dalam parit-parit yang kini mengepul Helaan nafas mulai tak bernada  Sungguh, ini realitanya Semua menghasilkan sampah yang sama dahsyatnya dengan Corona Mulai bercucur keringat di pelipis muka membatinku saja bahwa ini berguna Deras mengalir parit kecil ini yang tersentuh cangkul tumpul Andai bencana tidak harus mengakibatkan bencana lain? Pandemi menggiring malas yang semakin eksis Menggilas aktivitas fisik pun psikis Ada candu yang tak terelak Pada kekuatan otot yang ada Pada kekuatan pemikiran pemuda Penjajahan dari sebuah malas m...

TIDUR LAMA

Kalau bukan untuk bersama... Lalu untuk apa aku menunggu? Tak perlu lagi menunggu Senyum dan kebahagiaanku sudah hilang bersama keegoisanmu yang sudah menyiakan waktuku Aku tak akan memberimu kebahagiaan sekarang ... Aku takut kalau kuberikan sekarang akan habis sebelum kita bersama... Aku ingin bahagia dan bahagiakanmu, nanti... Akan kauberi saja aku derita? Aku harus tidur, untuk menyelesaikan 57 puisi dalam tiga hari... Aku harus tidur, untuk memimpikan bahagia dalam 35 tahun umurku... Aku harus tidur,  tapi tak bisa juga tidur... Tidur yang lama akan membuatku sadar Betapa kauhanya layak diimpikan saja selamanya... Jambi, 210621 (#puisirindu#3#tidurlama?)

DETERMINASI RINDU YANG PATAH

Energiku sudah berpindah Tak lagi mengharap apa-apa Luka yang menganga biarkan mengering perlahan saja Tak perlu menutup apalagi membalut Sudahi saja drama yang menyakitkan Pada gerhana bulan yang telah menghilang Yang telah mengecilkan semua perjuangan Siapkah terbakar dalam gerhana matahari yang menghanguskan dalam lembab? Kisah sebenarnya tak akan terpancar Karena cahaya terhalangi planet kehidupan ( Bumi) Gelapnya hari mungkin sebuah tanda Bahwa ada rintangan di setiap langkah adalah wajar Sebuah akhir tak harus ditangisi walau amat sakit Bahkan tak bisa dijelaskan dengan narasi yang dibalut redaksi termanis Keseimbangan tak ada lagi  Tak perlu lagi menunggu sapa di badai gelap Tanpamu aku ternyata tetap ada Seperti ini dan tak mengubah apapun Tetap menjelajah langkah tiada goyah Sehingga aku simpulkan bahwa, aku tak membutuhkanmu! Dan...aku ingin hubungan ini berakhir Jambi, 310521( The Last Of May)

BULAN MERAH SUPER (SUPER BLOOD MOON)

Gerhana Bulan... Gerah menyelimuti jiwa sejak senja Semburat mejikuhibiniu menyesak rongga kepala Kuterka total misalnya ada  bayangan Bumi secara total menutupi Bulan  Perige sebutannya Pasang surut gemuruh marah membuncah Bergabung menjadi pecah Antara tugas dan kenyamanan Luar biasa gerah tak ada ukuran Bulan merah... Delapan belas menit  Bulan mengelilingi Bumi sesuai orbit Pada jengkal pemikiran terhimpit Saat jeda dalam salat Ingin saja kuikat Sebilah pedang penjilat Agar bersiklus, berulang, karena ketiga benda akan bergerak dalam satu keharmonisan Aku  Kau Dan keputusan! Total bayangan Bumi menutupi Bulan dari sudut pandang terlihat Pada orbit yang elips Fase gerhana total  Menutup kebenaran yang vital Benar saja berakhir dengan mistis kental Lempoh, 260521 Antara tidur dan terjaga Perige yakni ketika Bulan berada di jarak terdekat dengan Bumi

TERGADAI JANJI

Rindu yang menjelma sampai hari Selasa Pasti kaubiarkan seperti biasa Lewat tanpa kata atau sapa Dan kauanggap biasa saja Aku tak pernah datang untuk melihat duka yang kaurasa Aku tak pernah tahu rasanya menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan Aku seperti tanda tangan yang harus ada, namun menunggu perintah atasan Pilar utama sudah runtuh bergemuruh Terima kasih untuk tulisan terenyuh Susah untuk kausentuh Hati yang telah terbunuh Berulang kali janji teringkari Hingga tak bisa lagi jiwa mencari Kebenaran apa yang terjadi Hanya kebencian terpatri Pegadaian, 250521

SENDIRI (YANG TAK BIASA)

Berada di sudut ini sendiri Seperti luka tak terobati Bergumam lirih Bahkan kedua telinga tak mendengar lagi Menekan ingin hati Menjadi seorang yang memang sendiri Menggeluti ego  Merampas gaya tak relevansi Menyendiri untuk sendiri Sedih...ya sedih Ini hanya pilihan untuk tiap hari Agar tak ada yang melukai Seolah dibatasi sepi Padahal telah menelanjangi Dan menjimak nafsuku semakin tinggi Memusatkan perhatian, melepaskan puji, dan merapatkan peluk diri...sendiri

TAKBIR TAK BERSAHUT

Takbir yang tak terlalu bergema Menenggelamkan harapan untuk bersahut yang kian pupus Memang tak ada mudik Larangan bukanlah sebenarnya halangan Ada yang lebih berarti dari sebuah larangan Ada keengganan Ada kesusahan yang tak dapat dijelaskan Ada keresahan sepanjang pemikiran Ini lebaran Seumur hidup satu kali terjadi dalam kenyataan Tanpa Emak, Bapak, Mbok e, Pak e, handai taulan Yah...ini kenyataan  Covid-19 mungkin hanyalah pernyataan dalam redaksi birokrasi Berusaha mengelabuhi Ah...semua tahu!  Ini rahasia umum Aturan segaris dengan pelanggaran Dan... Menikmati kegelisahan dalam rela Diam untuk menahan hati sejalan dengan ramadan yang tiada lagi Menunggu setahun lagi Biarlah menjadi catatan saja Mungkin juga sejarah Sejarah hidup yang tak perlu dimengerti  Untukku sendiri Lebaran, 1442H #nomudik

MEMULUNG HANTARAN PULANG

  Ketidakpastian menelangkup gugup, menjalani hidup... Seumpama di puncak malam redup tak sanggup Temaram cahaya Simbol  Adanya hidup Dan yang hidup Sampai kemaluan gelap diganti mentari   Sejak itu merangkak Dipastikan semua bergerak Mencari gejolak menghasilkan bekal Menjarak antara butuh atau harus Menjarah tatanan merusak!   Hingga terik menyengat, tak tampak surut semangat merayap sepanjang jalan kota  Ini adalah keharusan  Bukan sekedar kebutuhan Pertanggungjawaban juga ketidakpastian!     Senja bergurat seindah tarian Siluet terpampang pamer Selaksa warna tak beraturan memosisikan diri Menjinjing bawaan atas apa yang diperjuangkan Sekedar oleh-oleh  Covid-19 Bukan buah tangan culas   Saatnya melakukan kerja Tak melulu rusuh "Cipta Kerja" Berani pulang Yang membesarkan  Bergizi cacian   Jambi, 141020

MILITAN REBAHAN

Pada rasa sedikit canggung Membuka kelas sedikit debu bertaburan  Mencium aroma rindu sedikit tak tertahankan Semuanya mengembangkan selimut penyambung malam Sedikit, pada rasa hanya sedikit bersama google classroom memburam Sedangkan mereka… punya mimpi tajam di balik “REBAHAN” Menjerit, bukalah ransel hitam  Lalu terhasut wacana ujian nasioal tak lagi diadakan Mengeluhkan tumpukan tugas lagi, lagi-lagi tugas! Hhh !!! Tanpa henti Akhirnya semua dikerjakan sesuka hati Sampai di mana semuanya mengerti?  Bahwa banyak hal berarti yang bisa dikerjakan jari Kala hampir di senja Menorehkan nilai pada hati terpatri belenggu maya Sesungging senyum coba tepikan di titian ilmu kedaluwarsa Masihkah diriku ada gunanya ? Kaukira ini libur panjang yang menyenangkan? Tanyakan masa depan,  adanya harapan pada pandemi tak kesudahan Aku pun bertindak, namun seolah menjerumuskan ajaran tak berpihak kehidupan Tak usah kausebut pahlawan! Jambi, 15 Maret 2021

BARISTA LUKA

Hai Puan, Lekaslah ke dapur kita, Aku sudah panaskan abu-abu basah kemarin Mungkin, beberapa terbang tak kembali Tapi tak perlu khawatir, Abu-abu baru,  sudah kusediakan Pada bilah-bilah kayu yang kubelah tadi sore Hai Puan, Lekas hangatkan air di dapur kita Lama sudah tak menyeduh kopi Kursi-kursi sudah menunggu celotehmu, Tak perlu terlalu pahit,  Kita sama-sama sudah memahit ditelan rasa Hai Puan, Lekas! AKU : Aku sedang kelu Dalam gugu tak ada padu JHON: Kau biarkan rasa menggerogoti Hingga mati AKU: Sepi yang aku tahu Tak terpatri untuk dibayar Biarpun genggaman emas tak berbekas JHON:  Ah, sudah aku hempas Bersama bias-bias Ramadan ke-13

KUBURAN ASA

Kautahu sebuah perjalanan yang menyedihkan?  Yaitu perjalanan yang harus berhenti di tujuan... Makanya aku hanya berkelana sepanjang jalan Bukan aku tiada tujuan Tapi aku tahu aku tak pernah sampai tujuan Keputusan ada pada Tuhan Sekalipun demikian kita menahan Atau mengharapkan Berderai air mata pun membekas linangan Siapa menyangkal siapa menyuruh Kan luruh tanpa gemuruh Tak ada hati luluh dalam derasnya peluh Mencari keberadaan jari sepuluh Untuk menempatkan hati tiada fungsi Jika iya harusnya mati Bukan drama seumur hidup Menunggu kubur yang menjulang nisan

MEMANTASKAN RASA

Sepi yang melanda apa kautahu? Mencintai dengan pantas Seperti hilang batas Menjajah bebas Akhirnya ...aku tak pernah sanggup Menerjemahkan misteri yang terjadi Mengapa perlu mengingat luka? Sebagai pemantik jika ini memang nyata untuk dilakukan Aku lelah Dan pasrah saja Aku menyerah Maaf

PROSESI PERGI

Senyumnya itu Seperti mengkhawatirkan sesuatu Merespon cerita di kepalanya Menghadirkan ragawi tanpa hati Bukan semata tak sarapan pagi Kekurangan zat besi Membuat mereka tak peduli lagi Semua menjadi asal isi Asupan gizi tak memadai Pun asupan motivasi Guru lalai memompa partisipasi Sehingga tak heran harus merasa tak berarti lagi Ujian... Selayaknya melalui uji coba Mengendalikan dan memelihara rasa yakin Sepandai guru mengolah nilai menjadi kepingan, lembaran berbagai rasa rekayasa Jiwa tak punya raga Rasa tak butuh warna Sisiran doa untuk kalian bermakna di hidup nyata... Ruang 7,220321

PUNAH

PUNAH Ada apa dengan masa depan? Rasanya badai terlalu lama menghujam Menghasut mereka, hingga terlelap lama Punah Pijar-pijar tak lagi bersinar Bara api tak lagi membakar   Meleleh, menguap tiada bekas. Hilang berbalut kecewa. Ada apa dengan masa depan? Rasanya yang digugu dan ditiru tak lagi ditemu. Semua sibuk Semua menggawai Berburu karir  Yang tak berfikir...di mana akhir Banyak mimpi-mimpi membubung ke langit Entah sampai, ataukah membias diterpa badai menggulung menjepit Ada apa dengan masa depan? Ada apa? (Oleh:Jhon)

TEKA-TEKI HATI

Tuhan...peluk aku dalam ujung cahayamu  Bukan hanya dia sebenarnya yang mampu meluruhkan airmataku Sebenarnya aku tak ingin lagi menangis Untuk apalagi Tak ada arti Tuhan...dalam temaram kumeraba arah-Mu Lama aku tersungkur dari-Mu Lama aku di gurun khayalan semu Bukankah aku ciptaan-Mu? Apakah masih ada belas-Mu? Mungkin dugaanku ini karmaku Tuhan...tiada henti rapuh menyeruak Menyesak jiwa tak mampu raga bergerak Pada harap yang tak bisa kulepas Kemelekatan yang tak bisa kuhempas Aku merayap menghamba Untuk Kautanyakan atau sekedar Kausapa! Tuhan...tetesan airmata memang penyuluh memar jiwa Setelahnya gugur lapang dada  Meluasnya membinar nyata Di wajah apa adanya Tuhan... terima kasih atas kuat ini Senandung kecil  Sesunging senyum Telah kulempar di hamparan savana Bergulir tetes air langit-Mu Sejuk menggiring kagum Jambi, 280221 (Pertengkaran mencari tokoh utama kekacauan)

BAYU PELELAP AJAL

Senja bertukar Gelap menyergap agak tergagap aku menelanjangi diri Bukan untuk kaujamah, tidak. Hanya untuk membalurkan aroma kenanga di perapian malam Ada kau di sana Mengintip di kejauhan Tinggi namun terang Aku bergeming...mungkin janji itu yang selayaknya ditepati Atau aku riuh ucapan janji yang memang harus tersampaikan  Sekencangnya angin melewati dan sehambarnya udara sore tetap saja akan membawa janji yang minta di tepati Senandung rintih perih Kutagih  Aku menunggu dalam kedustaan lama Membaur benci dihimpit lelah Seperti mengurutkan jarum jam tak sudah-sudah Hukum dalam diam terkunci Beda antara benci dan kasih Sepele Kecil Menjadi hal Maafkan saja sebuah rasa tak terpenuhi pada harapan orang lain Bagai bayangan tak pernah lelah ikuti jejak kelammu yang dingin kelakar kewajiban  Mengekor  Kewajaran  Sambungkan pada gejolak yang tak terelak Membuat orang lain berpikiran jelek  Bahan olokan yang tak bertema Tuhan... Indahnya bayangan lepas antara aj...

PATGULIPAT CINTA

Desember... Dentingkan lonceng keramatnya Hisabkan timbangan dosa Bersenandung dupa,  Jelang datangnya purnama sebelum gugurnya cinta,  Kering nuansa sesaji terkuliti tumpeng bertali, membelit pocongan tembang rahasia,  akan gulirnya derit pintu di lonceng reruntuhannya Lebih dari sebuah mati Tak lagi mengenali nisan suci Tak ada arak keranda Taburan beras kuning maupun uang logam berjatuhan sungguh sisa yang mencekam  menunggu dalam keterkejutan tatanan yang tak terkendali Jadi lauk di kuali Tanpa ragu menguliti serpihan tembaga pekat Jelang Januari yang traumatik akut menghanyut Takut... Hampir terbongkar busuk mayat penghianatan Terpatri tujuh tali pocong terkait Selamat....hahhhhhhh TAK KUAT Semua telah melambat Aku terikat Tujuan tobat Jambi, 270221 Psikolinguistik the last

Dwiwarna Luka

Saat ini aku di muara sungai dua warna Tempatku dahulu menunggumu Dalam catatan sejarahnya, kita selalu tak terpadu situ Keributan yang sering menjadi nyata dalam penantian panjang hariku Di situ Mengamati arus di kiri yang keruh dan di kanan yang jernih, membuatku mual dalam kelaparan Tak sarapan dalam radiasi pesanmu Mengalir dengan caranya sendiri dan tak bersatu saling melarutkan Apakah sebabnya harus selalu terulang Berulang? Tiga jam bukan masalah lelah bokong ini dalam diam Lebih dari itu! Periode nafas yang tak lagi seirama membuatku selalu resah Apakah kau memang tak akan datang? Ya  Aku tahu dalam sepiku ada cercaanmu Yang tertunda dalam kesah umpat serapahmu Kini Ujung Tanjung ini tak lagi saksi Betapa aku tak minat menangisimu Telah kulempar jauh di deras dua warna itu Aku siap beranjak tanpa jejak Pulang... Ujung Tanjung, 301220