Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

KONVERSI ANGKA (HARGA DIRI) MU

Adakah sebait puisi untuk penutup semester ini? Mari kita buat! Tapi, kuceritakan situasinya Aku tak terlalu paham agama Tapi bagiku, sesuatu yang baik harus diperjuangkan Tak apa, biarkan ia dengan dirinya dan kita dengan kita Jika mulus, kauakan digerus Jika terjal, dirimu lihai menjajal Lanjut! Nanti kan kurangkai Ah, sudahlah... Rasanya para dedemit ini mulai merayu pikiranku Untuk melumat habis dia Bukankah konversi angka sudah kaujalankan? Sudah. Aku tatap lekat Dan logikaku segera kubuang Hati kotor yang kaumainkan? Aku tak tahu! Semua sudah kukabarkan Padanya yang sedang berbahagia Tak pula bahagia Pada alasan yang mana? Jika kaulihat, leherku sudah bosan menggeleng Pikir sudah buta Tanganpun sudah tak mampu meraba Bukan gemetar Kau lapar Lama kau terdampar di tandusnya idealisme Jadi? Burung burung sudah menertawakanku Apa pedulimu? Si Krempeng yang banyak bicara Dan banyak cita-cita Tak, Ia sedang menyendiri sekarang Berpikir! Untuk apa? Idealisme tak mati Jangan pernah, lupa...

Serenade Patah Senja

Usah kautersenyum merona seperti itu, Ada tangis di ujung cakrawala Membekas terhenti tak berlari Gelagat penculik rindu belum menampakkan muka Padahal, ia baru saja berkabar akan datang Ah kautahu sebalik semua itu Aku tak pernah menyukai hujan sebelumnya Tapi di sini, hujan adalah bahagiaku Aku suka suaranya, aku suka Ia seakan mengusik kesepianku Membawa pikiran pilu menuangnya ke muara Kau tau? Hujan setiap malam menemuiku, membelai tidurku dengan lembut Mencoba menghiburku dengan derunya, kilatan seakan membuang gelapku Aku bahagia... Bahagia Apalagi jika ada kau  di tatapku Kubuncahkan semua kegaduhan kita, bersama hujan di senja cakrawala Bahkan... Mungkin kautahu akibat hujan yang setiap hari turun Menjadi petaka Ya, tak ada yang tak gusar jika ia datang menyapa setiapnya Tak henti, semua gelisah  Keliru bila bahagia saja Ada saja yang bisa kaupertentangkan Sendirimu mungkin membuatmu tersenyum lebih Tak usah kita perdebatkan lagi Sudah pasti lilin itu akan habis usian...

GUPUH

Tinggalkan saja sendal yang basah itu Biarkanlah hujan mengepungnya Kauhanya harus berjalan tergesa agar basah tak lagi tertawa mengejek kegupuhanmu   Sejenak akan terlihat compang bahkan pakaian branded yang kaukenakan bukan lagi pertanda bahwa kaukaya raya Betapa pun jauh jarak tempuhmu bertelanjang kaki, perih akan menyertai Menoreh gores kerikil atau pecahan tajam lainnya di kakimu yang varises   Sudahkah kini sampai? Yah...tak pun  Tetap ada sembab pipi keringmu Bukan karena sendal basah Atau bajumu yang tak lagi trend Atau luka-luka kecil itu Ini hanya masalah waktu yang tak kalah hebat  Membentangkan kiloan langkah payah Hingga kaulelah Debar jantung tak lagi terarah Jangan kaukatakan menyerah Mengemis di jalanan kota kaubanggakan Di parit desamu kaukatakan malu menjadi kepala suku Sungguh otakmu tak lagi sewaras dulu Benarkah cuci otak dan cuci uang sama ngerinya? Jemput sendal basahmu Atau Baju branded  lamamu Bilas otak dan uangmu Minigreehouse, 18112...

LAMPU MERAH TERAKHIR

Sudah berapa banyak persimpangan yang kulalui? Dari rayuan pengamen jalanan mengiringi... Hingga baliho tinggi menjulur merayu Tatapmu, sudah tergambar di benakku segera bertemu! Kelakar lama sudah kupersiapkan, laju. Beberapa mereka di pinggir jalan berteriak, bertanya siapa hendak kutemui? Lampu merah sudah menghijau menyala terang,  Mengimbangi hari yang menyenja... Lagi-lagi bayangan tatapmu yang abu Tak terkenali lagi Kukalahkan waktu dan berpacu Di lampu merah terakhir... Kita bertatap berjarak Melempar senyum penuh makna Kita bercerita dipagari waktu Bercengkerama berbalut rindu Lampu merah terakhir,  Lembaran lalu...yang menyoalkan dirimu Mempertahankan prinsip lamamu Keidealisanmu Menjaring sisa terik  Menunggu jarak yang semakin melambat Ujung tiada lampu merah lagi Aku, Jhon, dan Naufal 01 November 2020

OCEHAN HUJAN

Tinggal menyisakan rintik dan genangan. Akankah ada pelangi setelahnya? Kadang... Kenyataan tak seburuk prasangka Serta sebentar saja terasa Menamparkan beku yang kau sembunyikan Entah pada siang atau gelapnya petang Sesibukmu mencurahkan gelisah Lebat... hebat Tak memilih pada siapa lagi Kutahu pun padaku Tak tersisakan jawab sore itu Menenggelamkan keindahan perjalanan Pada senda Pada nada tak menggema Museum Siginjai, 251020 Demimuridkupopi #puisirindu  #purplerose

ILALANG DI TERUSAN

Kan kukirim angin tuk ucapkan terima kasih  Dan tak lupa rindu di sela gerimis Sembari rasa mirismu pastinya Hahaha... Entahlah, kukira awan kelam tahu semuanya Kadang beberapa orang memiliki pandangan berbeda  Tujuannya sejatinya sama Ada beberapa kebiasaan yang sengaja hilang Tak tahu. Aku ingin sepi Menyepi saja Saatnya kauterima dengan sepimu yang menawarkan gemuruh Awan seakan mengerti Dengan memberikanku rinai Padahal malam Minggu baru berlalu beberapa menit meninggalkanmu Sebenarnya aku ingin eksperimen saja Apakah sekelilingku menghawatirkanku? Ternyata... Aku menghawatirkan kesendirian yang menggerus nalurimu Naluriku sudah terbiasa sendiri Diisi oleh pekat-pekatnya cakrawala Terbang Tak perlu khawatir puan Ia akan luntur seiring waktu Ada banyak kekhawatiran yang mesti kita pusatkan Kita sedang dihantam badai kejiwaan Moral yang tak melayani Pupus dan hanyut terbenam Titimangsa, lilin kecil yang gagu (William) 230920

PELABUHAN AKHIR

  Walau kita jarang sapa Rasa sayang sudah menua Padahal sudah biasa Mungkin kaulupa   Hidupku sudah sering meninggalkan dan ditinggalkan   Kita bercerita lewat senja pada malam yang redup, cakrawala menghitam Kita bercanda lewat bait-bait puisi Pada rindu gelora Mungkin saat ini kaulah lawan bicaraku dalam hal terdalam   Aku sungguh tak pernah berminat dengan persahabatan Awalnya jalan itu kutuju Tapi lama lama aku tau, hati ini sudah disekat oleh Tuhan Dan aku harus mengisi sesuai porsi Mungkin untuk ia nanti   Atau orangtua yang akan meninggalkanku Sebegitu pula teman dan sahabat yang datang dan lalu   Temukan saja dan jumpai belahan jiwamu Akan ada damai tergenang tanpa batas Itu pasti dan kuperjuangkan Pada setiap silaku di lembayung senja Hingga ayam baru berkookok Pintaku menembus langit     Mungkin Sang Dewa sedang membaca isi hatiku Semoga setelah sedih hari ini...akan ringan...

GENTALA SUNYI

Rasa... Setahun lalu hati masih abu Menghempas luka-luka pilu, merayu Ia datang dengan kerlipan mata tajam Sekilas aku geserkan bola mata  Menangkap sinar cinta  yang aku rasa tak ada Berlalu, Mata-mata sudah tiada Ia tumpahkan rindu bak melati yang tak bertemu kupu-kupu Gelisah Malam ini,  Dalam bait-bait puisi senja Ia tumpahkan semua rasa yang memudar Kini membara Berharapkan kumampu Biar rasa ini masih sembunyi dan dikebiri Ia tau salah rasa dan tak biasa Kau rindukah? Pada asap kuali emak? Atau aroma harumnya? Bukan. Emak sudah kubangunkan menara Tabir sudah kusingkap dan rindu sudah mereda Tapi rindu  Bilamana ia hari ini tak ada Padahal rasa ini Ah, Sudahlah Salahkah Sang Mahacinta menciptakan rasa? Pada yang sama Samakan jarak dan tatapan mata Kereta indah itu gentala Mengabadikan letupan cinta Tak berirama Tak berbahasa (Titipan Si Jhon) Kuliah perdana, 040920

SISAKAN JEJAK KEMARAU LALU, PADANYA

K ering… Jelang akhir kemaraumu, Pada kabut yang menanggung Sering kaulalaikan, akan inginmu   Puan sang penakluk hati, Coba carikan aku bait puisi Kan kujabat hatinya yang kosong Agar ragaku menyatu bersamanya   Pandemi tak pernah hentikan apapun Hanya sekonyong-konyong saja lupamu   Biarkan sepoi daun pinang di kampung menyibak sebentuk indah Sudah terselam muara hingga ke dalam Namun sinar matamu tak kunjung temu, Puan Akankah ia nelangsa di sana?   Terbang bersama puing-puing daun kering Mencari rasa dengan rasa jua Makna kan jumpakan ia Bukan membuta apalagi tak rupa Biarkan saja liar mengelana, padanya akan jumpa muara   Cakrawala sudah silih berganti Namun hatinya masih kelabu Bak riak yang kebingungan Mencari aliran   Wahai Sang Mahadewa, kulangitkan cinta pada-Mu Jatuhkan ia hingga pelupuk mata Masukkan sajak kusamku pada lembaran itu   (Ceracauan Si Jhon) The Last Of August...

ARAK-ARAK MEGA

Selagi air mengalir, selagi pasir terhambur, dan raga tak gugur Semua bisa saja kurengkuh Hanya butuh cinta kau   Puan… Kenangan panjang di malam itu, bersemi… Terpaut rona-rona cakrawala senja Tak mampu kugambarkan dengan sajak usang Perihnya ulu hati tak restu   Tak bersua, jua tak bertemu Lilitan rindu menggerus mega-mega Mentari mulai redup dan tumbang di ufuk cakrawala Sembari tengadah, Mataku mulai berbicara Sesal pilu sirna tak ada rona   Wahai jelita yang tak mampu kujabat hatinya Ke segala penjuru, kucoba ukir parasmu Sekali lagi, Kucoba terka, kali saja kautelepati   Jelita, Ajari aku melukis senja Dari sayu matamu aku ingin belajar makna Dari rindu yang menggumpal Dari bait-bait puisi para pujangga   Jelita, Akan aku bangun mahligai kata Bak riak yang tak bosan menepi di pantai kenangan Sebelum pulang pada gelombang lautan   Mengantar rindu ke peraduan Sajak rindu ini kupersemb...

RINDU BERANTAI

Langit kelam, pertanda riak mulai muncul Gawai tak henti-hentinya berdering Kugeser dan kutatap layar wajahmu Petir bergemuruh seakan tak setuju kita bersua Walau hanya sedetik saja sirna Nun kau bisikkan sesuatu "Rindu" ujarmu yang hilang ditutupi gemuruh Aku sudah biasa tak ada sapamu Tak ada cinta pun aku bisa Tapi, langit kelam ini menghalau semua Rinduku pun membuncah, Padamu Berkecup dan berdekep mesra tak bertemu Hanya tatapan mata saja yang tak paham artinya Penting bersua  Di akhir reda, Cerita itu kauakhiri Dengan senyum yang ingin kuulang kembali Semoga kita rindu selalu Walau gelap gemuruh terus memburu (curhat si JHON) Batanghari, 230820

JEDA KEPALSUAN HIDUP

Beri aku jeda pada rasa luka Beri aku jeda pada rasa kecewa Beri aku jeda pada rasa mencela Beri aku jeda pada rasa tak suka Ada senyum tapi kaku Ada uluran tangan tapi kaku Ada simpati tapi kaku Ada damai tapi kaku Tuhan...pada saat aku tersakiti, Aku coba menekan ulu hati Walau di luar perintah air mata jatuh sendiri Kuusap dengan cepat sekali Menghakimi hidup tiada hakiki Jerat paksa mengembalikan nyawa hampir mati Biarkan kekerasan menghantam Tak berpenolong hanya gambaran suram Aku mencoba kuat Aku berusaha kuat Aku berlaku kuat Aku hanya tunjukkan kuat Ada cacian yang tak langsung Ada hinaan yang tak langsung Ada hasutan yang tak langsung Ada iri, dengki, benci, juga tak langsung Semua palsu Senyum palsu Sapaan palsu Wanita palsu Lelaki palsu Kebijakan palsu Pendidikan palsu Pemimpin palsu Semua di hadapanku Cacaren, 210820

GERIGI PELUKA

Suara azan tinggal lamat Menyisakan degup gelisah di sudut rasa Masih ingin kubasuh muka dengan air suci Di magrib ini Dering gawai menderu "Kesusu" agar diangkat saat itu Lirih kudengar salam parau "Wes magriban?"  "Mpun" itu bohongku selalu Berbagai tanya mendera Butuh jawab lengkap dan indah Sambil kugigit bibir menghalau sakit di dada Sebongkah batu telah menghujam pundak Selalu saja, disisakan azan Kusandarkan punggung ringkih di dinding ungu Berharap pelukan sejuk  Selalu puas berlinang bagai nafsu yang teburu Membuncah di dada tak habis sekali itu Sesungguhnya semua hanya cerita di udara Tanpa nyata Tanpa aslinya Balutku saja  Untuk sebuah rasa Aman bahagia semuanya Magrib, 200820

JENGAH

Sepenggal asa di sudut pilu Menunggu keterlambatan janjimu Memang agak kaku Disertai rasa dungu Gemuruh dosa-dosa lalu Ditambahkan bumbu yang menghalu Sehingga dalam bayanganku Memang ku tak tahan lagi malu Berbisik malu yang tak tertuju Kapan ini berlalu? Ingatkan Aku tak lagi suka menunggu! Apalah sekedar rasa iri yang tak pernah malu Bahkan pada Tuhanku Seperti tak ada lagi hitungan timbangan  Batalkan jika harus! Mendramatisir rasa rakus Menjadi mulus Curut selokan dan tikus #JelangHUTRIke-75, 160820

(BUKAN) KEDALUWARSA

Tempat yang sama, situasi yang sama Namun rasa yang berbeda Bukan karena basi atau kedaluwarsa Hanya sedikit dingin saja Bagaimana juga menyadari semua telah berbeda adalah keharusan Agar tak lagi merasa tercampkkan Seiring waktu yang terlewatkan Tetap tersenyum dalam kesakitan Juga bukan kehebatan Semisal tiang sanggahan Pada pondok yang akan dirobohkan Berada di tempat yang sama, situasi sama Hanya membutuhkan sebuah cerita Kau harus yakin saja bahwa saat itu masih bernafas walau jauh dari bahagia Mydream, 140820

FATAMORGANA SENJA

Bersama hari yang tak seharusnya gelap Seakan sama saja Lembayung sore itu Senja belum datang, sementara sudah gelap Padahal… Cuma mendung Kapan runtuh menjadi rintik hujan? Membaca awan berharap angin tak menyapanya Agar tak musnah   Entah… Sejak kapan berdiri di tengah jalan? Terpaku di persimpangan Memilih arah yang mana Sama-sama tak terlihat warna terjal jalannya Sebelum hujan tiba membahana Seharusnya berada pada salah satunya   Bertahan bukan tak bisa memilih Sesederhana bingung yang ditanggung Menerjemahkan kelemahan keadaan Siap diguyur hujan yang mulai beraturan Bersamanya ku tahu  dingin tak mengubah keras hati Menyebabkan tak ada pilihan Pada banyak persimpangan Sehingga cukup saja kehujanan Dan … Bertahan Tak juga ada pilihan!   Sungai Kapas, Idul fitri#1441H

Mengoyak Jarak

Lihatlah langit menghitam Menandakan akan ada yang berjatuhan Dalam gelayut ketenangan Hujan segera datang Lihatlah pesona langit Dari titik terendah dan terhinamu Agar terlintas jarak yang amat jauh Sehingga tak ada waktumu Hanya meratapi keterpurukanmu atau luka terdalammu... Lebur saja jarak! Kejar impian yang mengarak bahagiamu Menjadi bercak pelangi  Esok hari Kemarau tak sekering dulu lagi Tak ada aroma sengat tanah menahun Yang ada hanya sisa gerimis larut malam yang menegun Semayam membaur ngilu Lihat sebentar saja Ada yang tengah berada di puncak tertinggi frustrasi Coba itu jadikan titik terendah emosi Agar terlintas solusi Dan bukan hanya ilusi... Jambi, 05 Agustus 2020 23:15 wib

"Kurban" Bersyarat

Pulanglah... Ini lebaran Merenung dalam takbir yang berkumandang Setelah lengang suara kalbu Pada nisan anakmu Yang laki-laki Kurban sapi sebagai janji Pernah mendapat mimpi Semua kepura-puraan Yang nuansa masker Membeli keramahan asli Pulanglah... Andai tak sempat lagi kau tersenyum Di suap gelisah setiap frasa kata  Juga pandangan mata Percayalah pada getaran hatimu Energi tak pernah bohong Tujuanmu mungkin jauh Atau tiada Tapi, bukankah ada rumah tua? Di sudut jalan buntu yang berjembatan kayu Siap jadi jambanmu Juga sembunyikan ragumu Di takbir ketujuh Telah lelah bersimpuh Di tengah tangan bernoktah Pada pulang yang tak berkesudah Jambi,  malam Idul Adha 2020

MENANGGUNG KECAMUK RISAU

Tangga tak lagi menuju tinggi Ia malu, karena teguran -teguran sumbang Melibas kekuataan asa, menjatuhkan mental baja   Hari itu Ia menyapaku, Mengabarkan bahwa Ia tak lagi berarti Berbisik sayu pilu Ia telah dipatah-patah Sang pemuja puji   Anak-anaknya sudah hilang Hanya tinggal dasar dan puncak compang Hanya dua dan UNTUK APA?   Anak-anaknya tak berarti Karena puncak tinggi bisa dibeli Kejam memang, tapi semua sudah sirahnya   Tangga menangis di sudut perapian Inginkan Si jago membakar habis Meratap asa yang sudah terkikis   Itu rayap yang menggerogoti setiap hari (Jawabku pada Jhon)   Batanghari, menjelang magrib Juli 2020

MENEBUS KARMA

MENEBUS KARMA   Menuang air pada gelas tertutup Terbuang sia-sia Begitu saja Seperti halnya berpegang pada sesuatu yang tak harapkan kita Pada hati yang tak lagi bisa menutupi   Bukan sedih yang membelenggunya Kisaran rimpuh pada langkahnya Menolak tuangan Membaurkan jadi tumpahan gelisahnya   Serapat tutup Sedapatnya mengendapkan yang ada Menjadi maya Menjadi inklusi Searah dengan persiapan melangkah Sejauhnya   Mungkin saja akan ada tepian untuk bersandar Dengan jangkar mengakar Sekuat hatiku bertahan pada ikrar     Jambi, 280720

Menjaring Matahari

Menjaring Matahari (bukan lagu Ebiet) oleh: Rina Kurniawati Jika waktunya tiba.. yaitu fajar merekah...ku kan berlari di bawahnya sedikit menikmati hangatnya terduduk di tengah dedaunan basah Menghirup segarnya aroma tanah   Muncullah si penguasa siang... Dengan garang Kuberanjak melenggang Meninggalkan jejak dan menghilang   Jika waktunya tiba... Tak kukagumi lagi sang mentari Karena ku t'lah bersama matahari Pudarkan embun di dedaunan basah Terbangkan debu dari tanah Menunggu dan menghabiskan  teriknya hari ini Menjaring matahari 120914

Temu Kata

Temu Kata karya: Rina Kurniawati Kau bilang mencintaiku kutanya, apa penyebabnya? Kau bilang karena mengagumiku, Apa yang buatmu kagum? Kau bilang karena kesederhanaanku, Dari mana kau tahu itu? Dari kata-kata yang selalu kutulis, Apakah kamu tahu? Maksudmu? Aku pecinta sastra yang pandai merangkai kata Kau tak terkejut sedikitpun Mengapa? Katamu, Karena kupun penikmat sastra yang suka dibohongi dengan kata-kata rekayasa 070914

Sebuah Senyum Rindu

Sebuah Senyum Rindu  oleh: Rina Kurniawati Di beranda hati, menanti Sesosok kekasih hati Menyayangi sampai nanti Ketika nyawa tak berbadan lagi Ternyata menyinta tak peduli hidup atau mati Dia abadi Seiring ufuk barat memudar, Tersambut gelap dalam samar Hiasi diri dalam tersadar Jumpakan malam untuk tegar Waktu membuat kita belajar Apapun impian harus dikejar Kini mimpi berubah jadi harap Tuk menemui cinta-Mu menemui di mihrab Terwakili dalam makhluk-Mu Sebuah tekad membingkai diri Ingin bersua walau di mimpi Menjemput bahagia abadi Bersamamu suami dari illahi robbi 280814

Sekerat Harap

Sekerat Harap goresan: Rina Kurniawati   Masih sama, Ketika semua itu hanya asa Sampai saat semua ada Terenyuh dalam sendunya lembayung tadi Senyum tak lagi jadi pemerhati Tak lama, Jika hati hanya urusan-Nya Sabar untuk menjadi ikhlas Ikhlas untuk menjadi syukur Sepenggal duka tak akan menyurutkan sabar berbatas 260814 *suamiku*

Sedihku

Sedihku oleh: Rina Kurniawati Andai tak di sisihmu, yakin ku hanya membisu Andai tak bersamamu, yakin ku tak mampu Apa yang ku hadapi, ku alami, ku lalui, ku cukupi.... semua di ambang batas mampu dan mimpi Kadang, ingin kuberlari, pergi Menapaki jalur tanpa alas kaki Tidur tanpa sebuah mimpi Tak sedih tanpa harus mati Ternyata di sini, di tengah badan ini Hanyalah sebuah daging kecil yang disebut hati dan pernah sesekali memiliki sedih 290414

Coretan Hari Ini

CORETAN HARI INI oleh : Rina Kurniawati Ketika nyawa tak lagi di badan apalah arti persahabatan, Ketika jasad terkuburkan apalah guna permusuhan Kalaupun tak, Ketika jarak memisahkan Ketika saat tak tersempatkan Ketika kesibukan merelakan Apalah arti persahabatan Apalah guna permusuhan Hari ini kawan, besok lawan Ayo!!Lupakan! Ayo!! Maafkan XII AP 230114

Niat Terlaknat

Menghilangkan gelisah Saat berdiri di atas hamparan tanah basah Seolah hal mudah Sungguh bagai dipaksa mengalah Dan terbukti menjadi kalah Pembuktian tiada benar-benar terjadi Karena alam yang menjadi marah sendiri Membela dan menghalangi Saat batas akhir kesalahan dilewati  Tanpa rasa peduli Pendar marah tersebar Jika memang menganggap benar Semua bubar Apa arti terjajah di negeri merdeka? Apa maksudnya miskin di negeri yang kaya? Apa perlunya guru ada untuk mereka? Jika semua yang dilakukan tak mengenali ajarannya sendiri? Alamakkkkk... Bodo amat Atas apa yang akan terlaknat Semua akan jadi terlambat Tak ada lagi pengampunan tobat Anda... Selamat Bakso... Talang Banjar , 140720

Konspirasi Bubuk Kopi

Konspirasi bubuk kopi Sedu larut Terlihat mana yang kopi murni atau sianida Tenggelam, melayang, atau mengapung Sungguh tawar Sungguh asam lambung ini Tanpa gula, meramu kafein Jambi, 180720

Suryaku Pergi

Ocehanku cukup bila hanya sebuah kata marah... Lihatlah...aku marah! Melihatmu dalam kebencian keadaan Kau lampiaskan pada semua kawan Kali ini aku ingin menamparmu Sekeras tenagaku Agar kau tahu  Aku sungguh tak lagi membencimu Kala kau tahu miskin bukan kutukan Namun harapan untuk kita bisa usahakan Semua tenaga dan pikiran Demi masa depan Ku kira kau akan sepertiku Yang menerjang badai topan Menerobos hujan Menjajaki jurang kematian Aku salah, Nak!!!! Kau tak cukup kuat bertahan Dan merasa memalukan Hingga jiwa ragamu termakan Angan-angan memabukkan Kau angkat tangan pada Tuhan "Tuhan...aku ingin katakan, aku tak mampu cobaan!" Kau tenggelamkan sujud pada pesakitan Pada kedengkian  Sementara kau bahagia Inginmu diijabah Tak lihat ada dada gemuruh membuncah Meronta...menengadah  Ternyata kau memang kalah Kau lebur pada cahaya putih Kau tinggalkan aku merintih Aku sendiri sebenarnya tidak pula gigih  Nak... Hadang aku di firdaus nanti...amin Jambi, 20072020 Surya Ad...