Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2020

SISAKAN JEJAK KEMARAU LALU, PADANYA

K ering… Jelang akhir kemaraumu, Pada kabut yang menanggung Sering kaulalaikan, akan inginmu   Puan sang penakluk hati, Coba carikan aku bait puisi Kan kujabat hatinya yang kosong Agar ragaku menyatu bersamanya   Pandemi tak pernah hentikan apapun Hanya sekonyong-konyong saja lupamu   Biarkan sepoi daun pinang di kampung menyibak sebentuk indah Sudah terselam muara hingga ke dalam Namun sinar matamu tak kunjung temu, Puan Akankah ia nelangsa di sana?   Terbang bersama puing-puing daun kering Mencari rasa dengan rasa jua Makna kan jumpakan ia Bukan membuta apalagi tak rupa Biarkan saja liar mengelana, padanya akan jumpa muara   Cakrawala sudah silih berganti Namun hatinya masih kelabu Bak riak yang kebingungan Mencari aliran   Wahai Sang Mahadewa, kulangitkan cinta pada-Mu Jatuhkan ia hingga pelupuk mata Masukkan sajak kusamku pada lembaran itu   (Ceracauan Si Jhon) The Last Of August...

ARAK-ARAK MEGA

Selagi air mengalir, selagi pasir terhambur, dan raga tak gugur Semua bisa saja kurengkuh Hanya butuh cinta kau   Puan… Kenangan panjang di malam itu, bersemi… Terpaut rona-rona cakrawala senja Tak mampu kugambarkan dengan sajak usang Perihnya ulu hati tak restu   Tak bersua, jua tak bertemu Lilitan rindu menggerus mega-mega Mentari mulai redup dan tumbang di ufuk cakrawala Sembari tengadah, Mataku mulai berbicara Sesal pilu sirna tak ada rona   Wahai jelita yang tak mampu kujabat hatinya Ke segala penjuru, kucoba ukir parasmu Sekali lagi, Kucoba terka, kali saja kautelepati   Jelita, Ajari aku melukis senja Dari sayu matamu aku ingin belajar makna Dari rindu yang menggumpal Dari bait-bait puisi para pujangga   Jelita, Akan aku bangun mahligai kata Bak riak yang tak bosan menepi di pantai kenangan Sebelum pulang pada gelombang lautan   Mengantar rindu ke peraduan Sajak rindu ini kupersemb...

RINDU BERANTAI

Langit kelam, pertanda riak mulai muncul Gawai tak henti-hentinya berdering Kugeser dan kutatap layar wajahmu Petir bergemuruh seakan tak setuju kita bersua Walau hanya sedetik saja sirna Nun kau bisikkan sesuatu "Rindu" ujarmu yang hilang ditutupi gemuruh Aku sudah biasa tak ada sapamu Tak ada cinta pun aku bisa Tapi, langit kelam ini menghalau semua Rinduku pun membuncah, Padamu Berkecup dan berdekep mesra tak bertemu Hanya tatapan mata saja yang tak paham artinya Penting bersua  Di akhir reda, Cerita itu kauakhiri Dengan senyum yang ingin kuulang kembali Semoga kita rindu selalu Walau gelap gemuruh terus memburu (curhat si JHON) Batanghari, 230820

JEDA KEPALSUAN HIDUP

Beri aku jeda pada rasa luka Beri aku jeda pada rasa kecewa Beri aku jeda pada rasa mencela Beri aku jeda pada rasa tak suka Ada senyum tapi kaku Ada uluran tangan tapi kaku Ada simpati tapi kaku Ada damai tapi kaku Tuhan...pada saat aku tersakiti, Aku coba menekan ulu hati Walau di luar perintah air mata jatuh sendiri Kuusap dengan cepat sekali Menghakimi hidup tiada hakiki Jerat paksa mengembalikan nyawa hampir mati Biarkan kekerasan menghantam Tak berpenolong hanya gambaran suram Aku mencoba kuat Aku berusaha kuat Aku berlaku kuat Aku hanya tunjukkan kuat Ada cacian yang tak langsung Ada hinaan yang tak langsung Ada hasutan yang tak langsung Ada iri, dengki, benci, juga tak langsung Semua palsu Senyum palsu Sapaan palsu Wanita palsu Lelaki palsu Kebijakan palsu Pendidikan palsu Pemimpin palsu Semua di hadapanku Cacaren, 210820

GERIGI PELUKA

Suara azan tinggal lamat Menyisakan degup gelisah di sudut rasa Masih ingin kubasuh muka dengan air suci Di magrib ini Dering gawai menderu "Kesusu" agar diangkat saat itu Lirih kudengar salam parau "Wes magriban?"  "Mpun" itu bohongku selalu Berbagai tanya mendera Butuh jawab lengkap dan indah Sambil kugigit bibir menghalau sakit di dada Sebongkah batu telah menghujam pundak Selalu saja, disisakan azan Kusandarkan punggung ringkih di dinding ungu Berharap pelukan sejuk  Selalu puas berlinang bagai nafsu yang teburu Membuncah di dada tak habis sekali itu Sesungguhnya semua hanya cerita di udara Tanpa nyata Tanpa aslinya Balutku saja  Untuk sebuah rasa Aman bahagia semuanya Magrib, 200820

JENGAH

Sepenggal asa di sudut pilu Menunggu keterlambatan janjimu Memang agak kaku Disertai rasa dungu Gemuruh dosa-dosa lalu Ditambahkan bumbu yang menghalu Sehingga dalam bayanganku Memang ku tak tahan lagi malu Berbisik malu yang tak tertuju Kapan ini berlalu? Ingatkan Aku tak lagi suka menunggu! Apalah sekedar rasa iri yang tak pernah malu Bahkan pada Tuhanku Seperti tak ada lagi hitungan timbangan  Batalkan jika harus! Mendramatisir rasa rakus Menjadi mulus Curut selokan dan tikus #JelangHUTRIke-75, 160820

(BUKAN) KEDALUWARSA

Tempat yang sama, situasi yang sama Namun rasa yang berbeda Bukan karena basi atau kedaluwarsa Hanya sedikit dingin saja Bagaimana juga menyadari semua telah berbeda adalah keharusan Agar tak lagi merasa tercampkkan Seiring waktu yang terlewatkan Tetap tersenyum dalam kesakitan Juga bukan kehebatan Semisal tiang sanggahan Pada pondok yang akan dirobohkan Berada di tempat yang sama, situasi sama Hanya membutuhkan sebuah cerita Kau harus yakin saja bahwa saat itu masih bernafas walau jauh dari bahagia Mydream, 140820

FATAMORGANA SENJA

Bersama hari yang tak seharusnya gelap Seakan sama saja Lembayung sore itu Senja belum datang, sementara sudah gelap Padahal… Cuma mendung Kapan runtuh menjadi rintik hujan? Membaca awan berharap angin tak menyapanya Agar tak musnah   Entah… Sejak kapan berdiri di tengah jalan? Terpaku di persimpangan Memilih arah yang mana Sama-sama tak terlihat warna terjal jalannya Sebelum hujan tiba membahana Seharusnya berada pada salah satunya   Bertahan bukan tak bisa memilih Sesederhana bingung yang ditanggung Menerjemahkan kelemahan keadaan Siap diguyur hujan yang mulai beraturan Bersamanya ku tahu  dingin tak mengubah keras hati Menyebabkan tak ada pilihan Pada banyak persimpangan Sehingga cukup saja kehujanan Dan … Bertahan Tak juga ada pilihan!   Sungai Kapas, Idul fitri#1441H

Mengoyak Jarak

Lihatlah langit menghitam Menandakan akan ada yang berjatuhan Dalam gelayut ketenangan Hujan segera datang Lihatlah pesona langit Dari titik terendah dan terhinamu Agar terlintas jarak yang amat jauh Sehingga tak ada waktumu Hanya meratapi keterpurukanmu atau luka terdalammu... Lebur saja jarak! Kejar impian yang mengarak bahagiamu Menjadi bercak pelangi  Esok hari Kemarau tak sekering dulu lagi Tak ada aroma sengat tanah menahun Yang ada hanya sisa gerimis larut malam yang menegun Semayam membaur ngilu Lihat sebentar saja Ada yang tengah berada di puncak tertinggi frustrasi Coba itu jadikan titik terendah emosi Agar terlintas solusi Dan bukan hanya ilusi... Jambi, 05 Agustus 2020 23:15 wib