Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2021

DETERMINASI RINDU YANG PATAH

Energiku sudah berpindah Tak lagi mengharap apa-apa Luka yang menganga biarkan mengering perlahan saja Tak perlu menutup apalagi membalut Sudahi saja drama yang menyakitkan Pada gerhana bulan yang telah menghilang Yang telah mengecilkan semua perjuangan Siapkah terbakar dalam gerhana matahari yang menghanguskan dalam lembab? Kisah sebenarnya tak akan terpancar Karena cahaya terhalangi planet kehidupan ( Bumi) Gelapnya hari mungkin sebuah tanda Bahwa ada rintangan di setiap langkah adalah wajar Sebuah akhir tak harus ditangisi walau amat sakit Bahkan tak bisa dijelaskan dengan narasi yang dibalut redaksi termanis Keseimbangan tak ada lagi  Tak perlu lagi menunggu sapa di badai gelap Tanpamu aku ternyata tetap ada Seperti ini dan tak mengubah apapun Tetap menjelajah langkah tiada goyah Sehingga aku simpulkan bahwa, aku tak membutuhkanmu! Dan...aku ingin hubungan ini berakhir Jambi, 310521( The Last Of May)

BULAN MERAH SUPER (SUPER BLOOD MOON)

Gerhana Bulan... Gerah menyelimuti jiwa sejak senja Semburat mejikuhibiniu menyesak rongga kepala Kuterka total misalnya ada  bayangan Bumi secara total menutupi Bulan  Perige sebutannya Pasang surut gemuruh marah membuncah Bergabung menjadi pecah Antara tugas dan kenyamanan Luar biasa gerah tak ada ukuran Bulan merah... Delapan belas menit  Bulan mengelilingi Bumi sesuai orbit Pada jengkal pemikiran terhimpit Saat jeda dalam salat Ingin saja kuikat Sebilah pedang penjilat Agar bersiklus, berulang, karena ketiga benda akan bergerak dalam satu keharmonisan Aku  Kau Dan keputusan! Total bayangan Bumi menutupi Bulan dari sudut pandang terlihat Pada orbit yang elips Fase gerhana total  Menutup kebenaran yang vital Benar saja berakhir dengan mistis kental Lempoh, 260521 Antara tidur dan terjaga Perige yakni ketika Bulan berada di jarak terdekat dengan Bumi

TERGADAI JANJI

Rindu yang menjelma sampai hari Selasa Pasti kaubiarkan seperti biasa Lewat tanpa kata atau sapa Dan kauanggap biasa saja Aku tak pernah datang untuk melihat duka yang kaurasa Aku tak pernah tahu rasanya menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan Aku seperti tanda tangan yang harus ada, namun menunggu perintah atasan Pilar utama sudah runtuh bergemuruh Terima kasih untuk tulisan terenyuh Susah untuk kausentuh Hati yang telah terbunuh Berulang kali janji teringkari Hingga tak bisa lagi jiwa mencari Kebenaran apa yang terjadi Hanya kebencian terpatri Pegadaian, 250521

SENDIRI (YANG TAK BIASA)

Berada di sudut ini sendiri Seperti luka tak terobati Bergumam lirih Bahkan kedua telinga tak mendengar lagi Menekan ingin hati Menjadi seorang yang memang sendiri Menggeluti ego  Merampas gaya tak relevansi Menyendiri untuk sendiri Sedih...ya sedih Ini hanya pilihan untuk tiap hari Agar tak ada yang melukai Seolah dibatasi sepi Padahal telah menelanjangi Dan menjimak nafsuku semakin tinggi Memusatkan perhatian, melepaskan puji, dan merapatkan peluk diri...sendiri

TAKBIR TAK BERSAHUT

Takbir yang tak terlalu bergema Menenggelamkan harapan untuk bersahut yang kian pupus Memang tak ada mudik Larangan bukanlah sebenarnya halangan Ada yang lebih berarti dari sebuah larangan Ada keengganan Ada kesusahan yang tak dapat dijelaskan Ada keresahan sepanjang pemikiran Ini lebaran Seumur hidup satu kali terjadi dalam kenyataan Tanpa Emak, Bapak, Mbok e, Pak e, handai taulan Yah...ini kenyataan  Covid-19 mungkin hanyalah pernyataan dalam redaksi birokrasi Berusaha mengelabuhi Ah...semua tahu!  Ini rahasia umum Aturan segaris dengan pelanggaran Dan... Menikmati kegelisahan dalam rela Diam untuk menahan hati sejalan dengan ramadan yang tiada lagi Menunggu setahun lagi Biarlah menjadi catatan saja Mungkin juga sejarah Sejarah hidup yang tak perlu dimengerti  Untukku sendiri Lebaran, 1442H #nomudik

MEMULUNG HANTARAN PULANG

  Ketidakpastian menelangkup gugup, menjalani hidup... Seumpama di puncak malam redup tak sanggup Temaram cahaya Simbol  Adanya hidup Dan yang hidup Sampai kemaluan gelap diganti mentari   Sejak itu merangkak Dipastikan semua bergerak Mencari gejolak menghasilkan bekal Menjarak antara butuh atau harus Menjarah tatanan merusak!   Hingga terik menyengat, tak tampak surut semangat merayap sepanjang jalan kota  Ini adalah keharusan  Bukan sekedar kebutuhan Pertanggungjawaban juga ketidakpastian!     Senja bergurat seindah tarian Siluet terpampang pamer Selaksa warna tak beraturan memosisikan diri Menjinjing bawaan atas apa yang diperjuangkan Sekedar oleh-oleh  Covid-19 Bukan buah tangan culas   Saatnya melakukan kerja Tak melulu rusuh "Cipta Kerja" Berani pulang Yang membesarkan  Bergizi cacian   Jambi, 141020

MILITAN REBAHAN

Pada rasa sedikit canggung Membuka kelas sedikit debu bertaburan  Mencium aroma rindu sedikit tak tertahankan Semuanya mengembangkan selimut penyambung malam Sedikit, pada rasa hanya sedikit bersama google classroom memburam Sedangkan mereka… punya mimpi tajam di balik “REBAHAN” Menjerit, bukalah ransel hitam  Lalu terhasut wacana ujian nasioal tak lagi diadakan Mengeluhkan tumpukan tugas lagi, lagi-lagi tugas! Hhh !!! Tanpa henti Akhirnya semua dikerjakan sesuka hati Sampai di mana semuanya mengerti?  Bahwa banyak hal berarti yang bisa dikerjakan jari Kala hampir di senja Menorehkan nilai pada hati terpatri belenggu maya Sesungging senyum coba tepikan di titian ilmu kedaluwarsa Masihkah diriku ada gunanya ? Kaukira ini libur panjang yang menyenangkan? Tanyakan masa depan,  adanya harapan pada pandemi tak kesudahan Aku pun bertindak, namun seolah menjerumuskan ajaran tak berpihak kehidupan Tak usah kausebut pahlawan! Jambi, 15 Maret 2021