Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2020

Serenade Patah Senja

Usah kautersenyum merona seperti itu, Ada tangis di ujung cakrawala Membekas terhenti tak berlari Gelagat penculik rindu belum menampakkan muka Padahal, ia baru saja berkabar akan datang Ah kautahu sebalik semua itu Aku tak pernah menyukai hujan sebelumnya Tapi di sini, hujan adalah bahagiaku Aku suka suaranya, aku suka Ia seakan mengusik kesepianku Membawa pikiran pilu menuangnya ke muara Kau tau? Hujan setiap malam menemuiku, membelai tidurku dengan lembut Mencoba menghiburku dengan derunya, kilatan seakan membuang gelapku Aku bahagia... Bahagia Apalagi jika ada kau  di tatapku Kubuncahkan semua kegaduhan kita, bersama hujan di senja cakrawala Bahkan... Mungkin kautahu akibat hujan yang setiap hari turun Menjadi petaka Ya, tak ada yang tak gusar jika ia datang menyapa setiapnya Tak henti, semua gelisah  Keliru bila bahagia saja Ada saja yang bisa kaupertentangkan Sendirimu mungkin membuatmu tersenyum lebih Tak usah kita perdebatkan lagi Sudah pasti lilin itu akan habis usian...

GUPUH

Tinggalkan saja sendal yang basah itu Biarkanlah hujan mengepungnya Kauhanya harus berjalan tergesa agar basah tak lagi tertawa mengejek kegupuhanmu   Sejenak akan terlihat compang bahkan pakaian branded yang kaukenakan bukan lagi pertanda bahwa kaukaya raya Betapa pun jauh jarak tempuhmu bertelanjang kaki, perih akan menyertai Menoreh gores kerikil atau pecahan tajam lainnya di kakimu yang varises   Sudahkah kini sampai? Yah...tak pun  Tetap ada sembab pipi keringmu Bukan karena sendal basah Atau bajumu yang tak lagi trend Atau luka-luka kecil itu Ini hanya masalah waktu yang tak kalah hebat  Membentangkan kiloan langkah payah Hingga kaulelah Debar jantung tak lagi terarah Jangan kaukatakan menyerah Mengemis di jalanan kota kaubanggakan Di parit desamu kaukatakan malu menjadi kepala suku Sungguh otakmu tak lagi sewaras dulu Benarkah cuci otak dan cuci uang sama ngerinya? Jemput sendal basahmu Atau Baju branded  lamamu Bilas otak dan uangmu Minigreehouse, 18112...

LAMPU MERAH TERAKHIR

Sudah berapa banyak persimpangan yang kulalui? Dari rayuan pengamen jalanan mengiringi... Hingga baliho tinggi menjulur merayu Tatapmu, sudah tergambar di benakku segera bertemu! Kelakar lama sudah kupersiapkan, laju. Beberapa mereka di pinggir jalan berteriak, bertanya siapa hendak kutemui? Lampu merah sudah menghijau menyala terang,  Mengimbangi hari yang menyenja... Lagi-lagi bayangan tatapmu yang abu Tak terkenali lagi Kukalahkan waktu dan berpacu Di lampu merah terakhir... Kita bertatap berjarak Melempar senyum penuh makna Kita bercerita dipagari waktu Bercengkerama berbalut rindu Lampu merah terakhir,  Lembaran lalu...yang menyoalkan dirimu Mempertahankan prinsip lamamu Keidealisanmu Menjaring sisa terik  Menunggu jarak yang semakin melambat Ujung tiada lampu merah lagi Aku, Jhon, dan Naufal 01 November 2020