00.34 wib
 Meihat suamiku tidak sehat, betapa terenyuhnya hatiku. Betapapun ia, aku sangat menyayanginya. Dia adalah malaikatku yang dikirim Allah..di saat kau menyerah dengan semua tentang kita. Dia yang membimbingku untuk sabar dalam memaknai hidup, menghantarkanku pada sarjana, menutupi semua kelemahanku. Dia yang dengan sabar menghadapiku dan memenuhi kebutuhanku sesuai tanggungjawabnya.
      Kini ia terbaring....bercucuran air mata ini jika mengingat semua perannya dalam hidupku. Tak sedikitpun titik noda darinya. Dia telah membuat keluarga kecil ini jadi berharga di mata keluargaku dan keluarganya. Kesembuhannya adalah harapanku. Tak kenal lelah dia bekerja keras untukku dan anak kami. Kadang tak dihiraukan letih lelahnya. Sungguh sebenarnya aku istri yang beruntung.
   Tak memilikimu adalah sebuah luka. Yang mengharapkan pengobatan yang lebih. Berpetualang dari hati para lelaki membuat dendamku tak pernah usai. Mencari sosokmu di setiap lelaki yang memiliki kemiripan denganmu membuatku lelah...benar-benar lelah!
    Membuat bahagia tak hanya cinta belaka. Dulu pernah kita mencoba memaksa keadaan untuk merestui kita. Kau ajak aku lari dari semua orang yang menentang. Tapi, inginku kau miliki aku dengan cara yang benar... dua laut kau tempuh tak jua kau dapatkan aku. Kini kuberpikir tak semua cara baik menghasilkan sesuatu yang baik sesuai keinginan kita. Jika berbuat salah kemudian memperbaikinya mungkin itu lebih baik. Tapi mungkin! Karena sesungguhnya aku amat rapuh...tak setangguh yang sering kau ucapkan dulu.
       Saat ini aku tak lagi inginkan apapun. Kecuali melihat dan menyertai tumbuh kembang putriku. Biarkan berjalan seperti kehendak-Nya. Pasrahnya hatiku ini sudah mulai terlatih sejak saat aku tak bisa lagi bersamamu. Sembuhlah suamiku...ayo rangkul aku dalam setiap tahajjud dan sujudmu...aku sangat letih mengembara. Karena malam ini tubuhkupun amat letih menanggung dosa-dosa ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cermin Kematian

PENDAR PUDAR

FATAMORGANA SENJA